Nahdlatul Ulama : Rumah Besar yang Harus Terus Dijaga Kehangatannya (Renungan Panjang Satu Abad Nahdlatul Ulama tentang Pengurus, Jamaah Awam, dan Rasa Memiliki)

 

Dr. Agus Salahudin

Sekretaris MWCNU Selaawi

email: mwcnuselaawi@gmail.com



 

Pendahuluan

Seratus tahun adalah usia yang matang. Pada usia seperti ini, seseorang biasanya tidak lagi ingin dipuji, melainkan ingin dipahami. Begitu pula Nahdlatul Ulama. Setelah satu abad berjalan, NU tidak lagi perlu membuktikan kebesarannya dengan suara yang keras. Kebesaran sejati justru tampak ketika ia mampu tetap hangat, tetap membumi, dan tetap dirasakan oleh jamaahnya yang paling sederhana.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kematangan sejati tidak diukur dari tampilan luar, tetapi dari ketenangan dan kerendahan hati:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati.”(QS. Al-Furqan [25]: 63)

 

Ayat ini seolah menjadi cermin bagi NU yang telah berjalan jauh. Semakin panjang usia pengabdian, seharusnya semakin lembut langkahnya. Semakin besar jamaahnya, semakin rendah hatinya.

Harlah satu abad NU bukan sekadar perayaan capaian sejarah, melainkan undangan untuk melunakkan hati. Bukan hanya bertanya apa yang telah NU capai, tetapi lebih dalam dari itu: bagaimana NU dirasakan oleh umat yang selama ini menjaganya dengan cara-cara yang sunyi dan setia.

Rasulullah mengingatkan bahwa ukuran kebaikan bukanlah kemegahan, melainkan manfaat dan sentuhan kemanusiaan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani;)

 

 

Jamaah awam NU mungkin tidak menuliskan sejarah, tetapi mereka menghidupkannya. Mereka tidak berdiri di podium, tetapi doa-doanya menguatkan perjalanan jam’iyyah ini. Mereka menjaga NU bukan dengan slogan, melainkan dengan kesetiaan yang diam.

Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU pernah menegaskan bahwa tujuan ilmu, organisasi, dan kepemimpinan bukanlah kemuliaan pribadi, tetapi khidmah kepada umat. Dalam Qānūn Asāsī, beliau menempatkan NU sebagai alat untuk menjaga agama dan kemaslahatan masyarakat, bukan sebagai simbol kekuasaan.

Karena itu, pada usia satu abad ini, NU seakan berbisik lembut kepada para pengurusnya: “Jika engkau ingin tetap hidup, jangan berdiri terlalu tinggi. Duduklah bersama umatmu.”

Inilah makna kedewasaan NU: tidak sibuk membanggakan usia, tetapi sibuk memastikan bahwa di setiap kampung, di setiap langgar kecil, di setiap jamaah yang awam dan sederhana, NU tetap terasa sebagai rumahrumah yang hangat, menenangkan, dan penuh kasih sayang.

 

Jamaah Awam: Pondasi yang Tidak Pernah Mengeluh

Jamaah awam NU adalah pondasi yang jarang disebut, tetapi paling menentukan. Mereka tidak ramai berbicara di forum. Nama mereka jarang tercatat dalam laporan. Namun dari merekalah NU berdiri tegak dan bertahan lama. Kesetiaan mereka tidak berisik, tetapi dalam dan mengakar.

Mereka hadir dalam wajah-wajah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari:

·         Orang tua yang tidak pernah absen tahlilan, meski tidak memahami istilah organisasi

·         Ibu-ibu yang istiqamah bershalawat di sela mengurus rumah dan anak-anak

·         Petani dan buruh yang menyisihkan rezeki kecil dengan penuh keikhlasan

·         Warga desa yang menjaga tradisi agama tanpa banyak bertanya dan menuntut

Mereka tidak sibuk bertanya apa itu NU, tetapi menjalani NU dalam bentuk paling nyata. Dalam tahlil yang pelan, dalam shalawat yang lirih, dalam doa yang dipanjatkan diam-diam. Bagi mereka, NU bukan papan nama, bukan spanduk, bukan struktur. NU adalah rasa aman dalam beragama.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan amal tidak selalu tampak besar di mata manusia, tetapi bernilai karena keikhlasan:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)

 

Jamaah awam NU mengamalkan ayat ini dalam hidup mereka. Mereka mungkin tidak tahu siapa pengurus NU hari ini, tetapi mereka tahu siapa kiai yang mereka hormati. Mereka mungkin tidak paham struktur organisasi, tetapi mereka paham adab, tawadhu’, dan kepercayaan kepada ulama. Di sanalah NU hidup dalam bentuk yang paling jujur dan paling murni.

Namun justru karena kesederhanaan itulah, sering kali tumbuh perasaan sunyi: NU sebagai organisasi terasa bukan milik mereka. Mereka merasa cukup mengamalkan, tanpa merasa perlu terlibat. Mereka tidak menuntut ruang, karena merasa tidak pantas meminta. Mereka tidak mendekat, karena takut merepotkan.

Rasulullah pernah mengingatkan bahwa orang-orang yang tampak sederhana justru sering paling dekat dengan Allah:

رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ
“Betapa banyak orang yang berpenampilan sederhana dan terpinggirkan, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (HR. Muslim)

 

Maka jika jamaah awam merasa tidak memiliki NU, itu bukan karena mereka kurang cinta. Justru karena cinta mereka terlalu rendah hati untuk ditampakkan. Ini bukan kesalahan jamaah, melainkan tanda bahwa ada jarak yang harus dijembatani dengan kasih sayang.

Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari sejak awal menegaskan bahwa jam’iyyah ini berdiri untuk menjaga umat awam agar tetap selamat dalam beragama. NU bukan dibangun untuk mereka yang merasa paling paham, tetapi untuk mereka yang ingin beragama dengan tenang.

Karena itu, ketika jamaah awam merasa cukup mengamalkan tanpa merasa memiliki, NU tidak boleh menyalahkan mereka. NU justru harus mendekat, menunduk, dan berkata dengan hati: “Engkaulah pondasi kami. Tanpamu, kami bukan apa-apa.”

Di sanalah tugas pengurus dimulai: bukan mengangkat diri, tetapi mengangkat rasa memiliki di hati jamaah yang selama ini setia tanpa suara.

Mengapa Rasa Memiliki Tidak Selalu Tumbuh Rasa memiliki tidak lahir dengan sendirinya. Ia tidak bisa diperintah, apalagi dipaksa. Rasa memiliki tumbuh dari pengalaman yang berulang pengalaman merasa diperhatikan, dilibatkan, dan diakui sebagai bagian dari keluarga. Ketika pengalaman itu jarang terjadi, rasa memiliki pun pelan-pelan melemah.

Banyak jamaah awam yang setia mengamalkan tradisi NU, tetapi tidak merasa memiliki Nahdlatul Ulama sebagai organisasi. Hal ini bukan karena kurang cinta, melainkan karena ada jarak yang terbentuk tanpa disadari. Jarak ini setidaknya muncul dari beberapa hal berikut.

 

1. NU Terlihat Terlalu Formal

Bagi jamaah awam, NU sering tampak dalam bahasa yang terlalu tinggi, simbol yang terlalu resmi, dan kegiatan yang terasa berat. Rapat, istilah organisasi, dan tata acara formal kerap jauh dari dunia keseharian mereka yang sederhana.

Padahal, jamaah awam hidup dalam bahasa rasa, bukan bahasa konsep. Mereka lebih memahami keteladanan daripada istilah. Lebih mengerti sentuhan daripada penjelasan panjang. Ketika NU tampil terlalu formal, jamaah tidak menolak tetapi memilih menjaga jarak dengan sopan.

Rasulullah mengingatkan bahwa kemudahan adalah kunci dakwah:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

NU sejatinya lahir dari semangat ini: mendekatkan agama, bukan menjauhkannya.

 

2. Pengurus Kurang Hadir dalam Peristiwa Kecil

Bagi jamaah awam, kehadiran lebih bermakna daripada pidato. Mereka mungkin lupa isi sambutan, tetapi tidak pernah lupa siapa yang datang saat mereka berduka, sakit, atau sedang kesulitan.

Jamaah lebih ingat tangan yang menyalami, doa yang dibacakan, dan duduk diam yang menemani. Ketika pengurus lebih sering hadir di acara besar daripada di peristiwa kecil kehidupan jamaah, maka NU terasa hidup di panggung, tetapi sunyi di rumah-rumah warga.

Rasulullah bersabda:

مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. al-Hakim)

Hadis ini menegaskan bahwa kepedulian nyata adalah inti kebersamaan umat.

 

3. Keterlibatan Jamaah Masih Terbatas

Banyak jamaah hadir dalam kegiatan NU, tetapi hanya sebagai peserta, bahkan kadang hanya sebagai pelengkap. Mereka jarang diajak merancang, jarang diminta pendapat, dan jarang diberi peran meski kecil.

Padahal rasa memiliki tumbuh ketika seseorang dilibatkan, bukan sekadar diundang. Ketika jamaah hanya menjadi objek kegiatan, mereka akan merasa NU berjalan tanpa mereka. Sebaliknya, ketika jamaah diajak bersama, NU akan terasa sebagai milik bersama.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia akan mencintai sesuatu yang membuatnya merasa dihargai dan diakui keberadaannya. Penghargaan inilah yang sering kali tidak disengaja terlewatkan.

 

Meluruskan Arah: Bukan Jamaah yang Salah

Penjelasan ini penting agar NU tidak salah arah. Bukan jamaah yang perlu “disadarkan”, tetapi cara kita mendekat yang perlu diperhalus. Bukan umat yang kurang cinta, tetapi pendekatan kita yang perlu lebih ramah.

Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari sejak awal meletakkan NU sebagai jam’iyyah yang berkhidmah kepada umat, terutama umat awam. NU berdiri bukan untuk membebani mereka dengan urusan organisasi, tetapi untuk membuat mereka merasa aman, tenang, dan terlindungi dalam beragama.

Maka ketika jamaah awam tidak merasa memiliki NU, itu bukan tanda kegagalan mereka. Itu adalah undangan halus bagi para pengurus untuk menurunkan nada, mendekatkan langkah, dan membuka ruang yang lebih luas.

Karena rasa memiliki tidak tumbuh dari seruan keras, melainkan dari kehadiran yang setia, dari bahasa yang sederhana, dan dari sikap yang memanusiakan.

 

Pengurus NU: Amanah untuk Menyambung Rasa

Pengurus NU sejatinya bukan sekadar penggerak organisasi. Mereka adalah penyambung rasa, rasa kebersamaan, rasa aman, dan rasa memiliki antara jam’iyyah (organisasi) dan jamā’ah (umat). Mereka bukan pemilik NU, melainkan penjaga kepercayaan yang dititipkan oleh para kiai dan jamaah awam dengan penuh harap.

Sejak awal berdirinya Nahdlatul Ulama, Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa NU bukan didirikan untuk kebesaran nama, tetapi untuk menjaga agama dan kemaslahatan umat, terutama umat awam. Dalam Qānūn Asāsī, beliau meletakkan ruh NU sebagai jam’iyyah khidmah, bukan jam’iyyah kekuasaan.

Karena itu, menjadi pengurus NU sejatinya adalah latihan batin yang terus-menerus. Setiap pengurus seharusnya kerap bertanya pada dirinya sendiri, dengan jujur dan rendah hati: “Apakah kehadiran saya membuat umat merasa lebih tenang, atau justru membuat mereka sungkan dan menjaga jarak?” Pertanyaan ini penting, sebab sering kali jarak tidak diciptakan oleh niat buruk, tetapi oleh sikap yang tanpa sadar meninggikan diri.

Rasulullah mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dalam konteks NU, pengurus adalah ra’in penggembala rasa umat. Ia harus peka, sabar, dan hadir dengan hati. Pengurus NU yang baik bukanlah yang paling sibuk rapat atau paling sering tampil di mimbar, melainkan yang:

·         Mau turun ke bawah tanpa rasa gengsi, duduk bersama jamaah tanpa jarak

·         Mau mendengar keluhan tanpa merasa diserang, memahami bahwa keluh kesah adalah bentuk kepercayaan

·         Mau hadir tanpa harus selalu diundang, terutama dalam peristiwa kecil kehidupan umat

Sebab bagi jamaah awam, kehadiran adalah bahasa yang paling mudah dipahami. Mereka mungkin lupa susunan kepengurusan, tetapi mereka ingat siapa yang datang saat mereka berduka, siapa yang menenangkan saat mereka bingung, dan siapa yang diam-diam mendoakan.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang mampu merasakan beban umat sebelum umat itu bersuara. Kepemimpinan yang tidak disertai empati akan melahirkan jarak, sementara kepemimpinan yang disertai kasih sayang akan melahirkan kelekatan.

Ketika pengurus NU mampu bersikap demikian rendah hati,hadir, dan mendengarkan maka NU akan terasa dekat tanpa harus banyak bicara. Jamaah tidak perlu diyakinkan dengan slogan, karena mereka sudah merasakannya dengan hati.

Di sanalah NU hidup bukan sebagai struktur yang kaku, tetapi sebagai rumah yang pintunya selalu terbuka, dan sebagai pelukan yang menenangkan bagi umat yang sederhana.

 

Dari Program ke Pendampingan Nyata

Program kerja itu penting. Ia menunjukkan arah, rencana, dan ikhtiar organisasi. Namun bagi jamaah awam, yang paling terasa bukanlah padatnya agenda, melainkan hadir atau tidaknya NU di saat-saat kecil kehidupan mereka.

Bagi jamaah sederhana, NU hadir secara nyata bukan ketika kalender penuh kegiatan, tetapi ketika:

·         Ada warga sakit, lalu pengurus datang, duduk sebentar, dan mendoakan dengan tulus

·         Ada keluarga miskin, lalu NU membantu dengan cara yang menjaga martabat, tanpa membuka aib

·         Ada konflik kecil di masyarakat, lalu NU hadir menenangkan, bukan menyulut api

Hal-hal seperti inilah yang diam-diam membekas di hati jamaah. Mereka mungkin tidak membaca laporan kegiatan, tetapi mereka mengingat siapa yang datang saat mereka lemah. Karena yang disentuh bukan kertas dan angka, melainkan perasaan sebagai manusia.

Rasulullah mengajarkan bahwa nilai kehadiran terletak pada empati dan kepedulian nyata:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menegaskan bahwa umat tidak disatukan oleh program, tetapi oleh rasa saling merasakan. Ketika satu bagian sakit, bagian lain hadir bukan dengan pidato, tetapi dengan kepedulian.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama,  pendampingan seperti ini bukan hal baru. Sejak awal, NU hidup dalam bentuk khidmah yang sunyi: menenangkan umat, menjaga tradisi, dan menjadi penyangga sosial di tengah keterbatasan.

KH. Sahal Mahfudh pernah menegaskan bahwa dakwah dan pengabdian harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat (maslahah al-waqi‘iyyah), bukan sekadar idealisme program. Artinya, pengurus NU perlu peka membaca keadaan sebelum menyusun kegiatan.

Imam al-Ghazali pun mengingatkan bahwa kebaikan yang paling dalam pengaruhnya adalah kebaikan yang dilakukan dengan empati, bukan dengan rasa lebih tinggi. Bantuan yang disertai kasih sayang akan menumbuhkan kelekatan; bantuan yang disertai jarak justru melahirkan rasa sungkan. Karena itu, pendampingan adalah ruh dari program. Program tanpa pendampingan akan terasa dingin. Sebaliknya, pendampingan meski tanpa nama besar akan terasa hidup.

Ketika NU hadir dengan cara seperti ini pelan, sabar, dan setia jamaah awam akan merasakan bahwa NU bukan sekadar organisasi yang bekerja, tetapi keluarga yang menemani. Di sanalah NU benar-benar hidup: bukan di laporan yang rapi, tetapi di hati umat yang merasa ditemani; bukan di panggung yang terang, tetapi di sudut-sudut kehidupan yang sunyi.

 

Keawaman: Amanah yang Harus Dijaga dengan Sabar

Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, umat awam bukanlah masalah yang harus disingkirkan, melainkan amanah besar yang harus dijaga dengan penuh kesabaran. Mereka adalah mayoritas umat. Di tangan merekalah agama dijalani dalam kehidupan nyata di rumah, di ladang, di pasar, dan di tengah keterbatasan hidup.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan utama agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi memperbaiki hati manusia. Agama diturunkan untuk menenangkan, bukan menakutkan; untuk membimbing, bukan menghardik. Karena itu, cara mendekati umat sangat menentukan arah perjalanan iman mereka. Jika pendekatan terlalu keras, hati akan tertutup. Jika pendekatan terlalu jauh, hati akan merasa ditinggalkan.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa kelembutan adalah jalan utama dalam membimbing manusia:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

 

Ayat ini bukan hanya petunjuk bagi Nabi, tetapi juga pelajaran bagi siapa pun yang memikul amanah dakwah dan kepemimpinan umat. Jalan kelembutan bukan pilihan kedua; ia adalah jalan utama.

Rasulullah mencontohkan dakwah dengan kesabaran yang panjang. Beliau menghadapi umat dengan berbagai latar belakang ada yang awam, ada yang keliru, ada yang keras namun beliau tidak memulai dengan penghakiman. Beliau memulai dengan empati.

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.”
(HR. Muslim)

 

Inilah jalan yang diwarisi oleh Nahdlatul Ulama. Sejak awal, NU hadir bukan untuk mengubah umat secara kasar, tetapi untuk menjaga umat agar tetap selamat dalam beragama. NU memahami bahwa umat awam tidak butuh tekanan, melainkan tuntunan; tidak butuh ancaman, melainkan pendampingan.

Karena itu, tugas pengurus NU bukanlah memperlihatkan siapa yang paling paham, tetapi memastikan umat yang paling awam tetap merasa aman. Pengurus NU harus mampu menjelaskan agama dan organisasi dengan bahasa yang menenangkan bahasa yang membumi, yang mudah dipahami, dan yang tidak membuat umat merasa kecil.

Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari meletakkan prinsip ini dengan sangat jelas: ilmu dan kepemimpinan harus melahirkan adab. Jika adab hilang, ilmu akan menjadi beban. Jika kelembutan hilang, agama akan terasa jauh.

Maka menjaga keawaman umat sejatinya adalah menjaga masa depan NU itu sendiri. Selama umat awam merasa dilindungi, dihormati, dan ditemani, NU akan tetap hidup. Bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai jalan pulang yang menenangkan bagi umat yang sederhana. Keawaman bukan kekurangan. Ia adalah ladang kesabaran. Dan kesabaran itulah yang selama satu abad telah menjaga NU tetap tegak dan dicintai.

 

Bagaimana Menumbuhkan Rasa Memiliki Secara Perlahan

Rasa memiliki tidak bisa diperintah. Ia tidak tumbuh karena instruksi, apalagi tekanan. Rasa memiliki lahir dari pengalaman yang berulang, dari perjumpaan-perjumpaan kecil yang jujur, dari sikap yang konsisten memanusiakan.

Dalam kehidupan jamaah awam, rasa memiliki kepada Nahdlatul Ulama tumbuh bukan karena mereka diminta mencintai NU, tetapi karena mereka merasakan diri mereka dicintai oleh NU.

Karena itu, menumbuhkan rasa memiliki harus dimulai dari hal-hal yang sederhana, namun bermakna:

·         Jamaah diajak bicara, bukan hanya diminta hadir. Ketika jamaah didengar pendapatnya meski sederhana mereka merasa diakui keberadaannya. Didengar berarti dihargai, dan dihargai adalah pintu pertama menuju rasa memiliki.

·         Jamaah diberi ruang berperan, meski kecil
Peran kecil sering kali lebih bermakna daripada posisi besar. Ketika jamaah diberi kepercayaan, mereka merasa NU adalah tempat mereka berbuat, bukan sekadar tempat mereka datang.

·         Jamaah dihargai meski tidak paham istilah organisasi. Jamaah awam tidak hidup dalam bahasa AD/ART, tetapi dalam bahasa adab dan keteladanan. Ketika ketidaktahuan mereka tidak ditertawakan atau diremehkan, hati mereka akan terbuka dengan sendirinya.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan manusia terletak pada penghormatan, bukan pada kecakapan bicara:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70)

 

Ayat ini menjadi dasar bahwa setiap manusia termasuk jamaah awam harus diperlakukan dengan hormat, tanpa syarat kepandaian atau posisi.

Rasulullah juga mencontohkan cara membangun kebersamaan dengan sangat halus. Beliau tidak pernah memaksa umat untuk merasa dekat, tetapi menghadirkan diri dengan akhlak yang membuat umat ingin mendekat:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

 

Ketika pengurus NU merendahkan diri, mau mendengar, mau mengajak, mau menghargai maka jamaah akan terangkat martabatnya. Dari situlah rasa memiliki tumbuh, bukan karena diminta, tetapi karena merasa aman dan dihormati.

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa hati manusia hanya akan terikat pada sesuatu yang membuatnya merasa tenang. Organisasi yang membuat umat merasa kecil akan ditinggalkan secara halus. Sebaliknya, organisasi yang membuat umat merasa diterima akan dicintai tanpa diminta.

Maka, ketika jamaah awam merasa dihormati sebagai manusia, mereka akan dengan sendirinya merasa memiliki NU. Bukan karena ada seruan, bukan karena ada kewajiban, tetapi karena ada kasih sayang yang nyata.

Rasa memiliki itu tumbuh pelan, seperti doa yang diulang setiap malam, tidak keras, tidak tergesa, tetapi dalam dan menetap. Dan di situlah NU menemukan kekuatannya yang paling sejati: bukan pada banyaknya struktur, tetapi pada hati jamaah yang merasa, “Inilah rumah kita bersama.” NU sebagai Rumah Sosial dan Spiritual NU seharusnya selalu dijelaskan dan dihadirkan sebagai rumah. Bukan sebagai menara yang tinggi, bukan sebagai panggung yang berjarak, melainkan rumah yang pintunya terbuka.

Rumah tidak memilih siapa yang paling pintar. Rumah tidak menanyakan jabatan atau gelar. Rumah menerima siapa pun yang pulang. Di rumah, orang boleh lelah tanpa harus menjelaskan. Di rumah, orang boleh kurang paham tanpa merasa direndahkan. Di rumah, orang boleh belajar perlahan, tanpa ditertawakan atau dikejar-kejar.

Begitulah seharusnya NU hadir di tengah umat sebagai rumah sosial dan spiritual. Rumah sosial, tempat umat merasa dilindungi martabatnya. Rumah spiritual, tempat iman dirawat dengan tenang dan penuh kasih.

Abdurrahman Wahid berulang kali menegaskan bahwa kekuatan NU bukan terletak pada kekakuan struktur, melainkan pada kemampuannya merawat kemanusiaan. NU hidup karena ia memahami manusia apa adanya dengan segala keterbatasan, keraguan, dan harapannya.

Gus Dur pernah mengingatkan bahwa agama kehilangan maknanya ketika ia menjauh dari manusia. Maka NU tidak boleh hadir sebagai organisasi yang menakutkan, apalagi menghakimi. NU harus hadir sebagai tempat orang merasa aman untuk tetap menjadi manusia, sambil perlahan belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa misi agama adalah membawa ketenangan dan kasih sayang:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

 

Ayat ini menjadi fondasi bahwa kehadiran NU sebagai jam’iyyah keagamaan harus terasa sebagai rahmat, bukan beban. Jamaah awam tidak butuh tekanan untuk menjadi baik. Mereka butuh ruang yang aman untuk bertumbuh.

Selama NU menjaga wajah yang ramah dan hati yang lapang, jamaah awam akan selalu merasa betah berada di dalamnya. Selama NU tidak menutup pintu bagi yang lemah dan sederhana, umat akan tetap pulang meski pelan, meski tanpa suara. Karena rumah yang baik tidak memanggil dengan keras,
tetapi selalu ada ketika dibutuhkan. Dan NU, pada hakikatnya, lahir untuk menjadi rumah seperti itu.

 

Menatap Abad Kedua dengan Kesadaran Baru

Abad kedua Nahdlatul Ulama akan penuh tantangan. Perubahan zaman bergerak cepat. Cara hidup umat berubah. Cara orang belajar agama pun tidak lagi sama. Di tengah arus besar itu, NU akan berhadapan dengan banyak godaan: godaan untuk menjadi kaku, godaan untuk menjadi elitis, atau godaan untuk merasa cukup dengan kebesaran masa lalu.

Namun di antara semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh berubah: NU harus tetap berpihak kepada umat awam. Karena sejak awal, NU lahir bukan untuk mereka yang sudah merasa paling paham, tetapi untuk mereka yang ingin beragama dengan tenang. NU hadir bukan untuk memamerkan keunggulan, tetapi untuk menjaga agar umat tidak merasa sendirian dalam menjalani iman.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa arah kepemimpinan yang benar adalah keberpihakan kepada yang lemah dan sederhana:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Rendahkanlah sayapmu bagi orang-orang beriman yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu‘ara’ [26]: 215)

 

Ayat ini bukan sekadar perintah moral, tetapi pedoman sikap. Semakin tinggi amanah, semakin rendah seharusnya sikap. Semakin besar organisasi, semakin lembut seharusnya kehadirannya.

Jika pada abad kedua nanti pengurus NU semakin rendah hati, tidak merasa paling benar, tidak berjarak dengan umat; jika jamaah semakin dirangkul, didengar suaranya, dihormati kesederhanaannya; dan jika NU semakin hadir dalam kehidupan nyata, hadir di rumah duka, hadir di lorong kemiskinan, hadir di kegelisahan umat; maka NU tidak hanya akan bertahan. NU akan terus dicintai.

Rasulullah mengingatkan bahwa cinta umat bukan lahir dari kekuasaan, tetapi dari akhlak:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

 

Inilah pesan penting bagi NU di abad kedua bahwa masa depan NU tidak ditentukan oleh seberapa keras ia bersuara, tetapi oleh seberapa lembut ia memeluk umatnya. NU akan tetap hidup selama ia tidak lupa asal usulnya, selama ia tidak meninggalkan jamaah awam, dan selama ia memilih jalan khidmah daripada jalan kebanggaan.

Menatap abad kedua bukan berarti melangkah dengan dada membusung, tetapi dengan hati yang waspada dan penuh kasih. Karena NU yang dicintai bukan NU yang merasa besar, melainkan NU yang membuat umat merasa tidak kecil.

 

Penutup:

Penjelasan yang Menjadi Doa

Penjelasan tentang NU yang lembut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang diucapkan melalui sikap dan perbuatan. Ia tidak berhenti di mimbar, tetapi turun ke tanah.
Ia tidak tinggal di dokumen, tetapi hidup dalam perjumpaan.

Ketika pengurus mau melangkah turun dan mendekat, jamaah tidak perlu dipanggil keras-keras mereka akan merapat dengan sendirinya. Karena hati yang disentuh dengan tulus akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali. Nahdlatul Ulama tidak dibesarkan oleh suara yang lantang, tetapi oleh kesetiaan yang diam. Tidak dijaga oleh ambisi, tetapi oleh kasih sayang yang sabar.

Sebagaimana doa Nabi Ibrahim yang memohon agar hati manusia dilembutkan dan didekatkan:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim [14]: 37)

 

Ayat ini seakan menjadi harapan bagi NU: bukan agar dipuja, tetapi agar dicintai; bukan agar ditakuti, tetapi agar dirindukan. Semoga Harlah satu abad NU benar-benar menjadi titik balik: NU semakin membumi dalam kehidupan umat, pengurus semakin ringan melayani tanpa merasa lebih tinggi, dan jamaah awam semakin merasa aman dan diakui keberadaannya. 

Hingga suatu hari, di langgar kecil dan di desa-desa sunyi, di hati orang-orang sederhana yang setia, terucap kalimat yang paling jujur dan paling bermakna: “Inilah rumah kita bersama.” Dan selama NU mampu menjadi rumah  tempat pulang bagi yang lelah, tempat belajar bagi yang awam, dan tempat bernaung bagi yang kecil  selama itu pula NU akan tetap hidup, dijaga oleh doa, dirawat oleh cinta, dan dilanjutkan oleh generasi yang rendah hati.

Amin.

 


 

Daftar Rujukan :

 

Abdurrahman Wahid. (1999). Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan. Jakarta: Desantara.

Abdurrahman Wahid. (2006). Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute.

Ahmad ibn anbal. (2001). Musnad Amad. Beirut: Mu’assasah al-Risālah.

Al-Bukhari, Muammad ibn Ismā‘īl. (2001). aī al-Bukhārī. Beirut: Dār awq al-Najāh.

Al-Ghazālī, Abū āmid. (2005). Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Fikr.

Al-Qur’an al-Karim. (2019). Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Ath-Thabrānī, Sulaymān ibn Amad. (1983). Al-Mu‘jam al-Kabīr. Kairo: Maktabah

Barton, Greg. (2002). Gus Dur: The Authorized Biography. Jakarta: Equinox Publishing.

Bruinessen, Martin van. (1994). NU: Tradisi, Relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru. Yogyakarta: LKiS.

Dhofier, Zamakhsyari. (2011). Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Hasyim Asy’ari, KH. (2011). Qānūn Asāsī Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Jombang: Pustaka Tebuireng.

Mahfudh, Sahal, KH. (1994). Nuansa Fiqh Sosial. Yogyakarta: LKiS.

Muslim ibn al-ajjāj. (2006). aī Muslim. Beirut: Dār Iyā’ al-Turāth al-Arabī.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. (1984). Khittah Nahdlatul Ulama 1926. Jakarta: PBNU.

Siddiq, Ahmad, KH. (1989). Khittah Nahdliyah dan Tanggung Jawab Keumatan. Jakarta: PBNU.

 

 

Komentar