Nahdlatul Ulama : Rumah Besar yang Harus Terus Dijaga Kehangatannya (Renungan Panjang Satu Abad Nahdlatul Ulama tentang Pengurus, Jamaah Awam, dan Rasa Memiliki)
Dr. Agus Salahudin
Sekretaris MWCNU Selaawi
email: mwcnuselaawi@gmail.com
Pendahuluan
Seratus tahun adalah usia
yang matang. Pada usia seperti ini, seseorang biasanya tidak lagi ingin dipuji,
melainkan ingin dipahami. Begitu pula Nahdlatul
Ulama. Setelah satu abad berjalan, NU tidak lagi perlu membuktikan
kebesarannya dengan suara yang keras. Kebesaran sejati justru tampak ketika ia
mampu tetap hangat, tetap membumi, dan tetap dirasakan oleh jamaahnya yang
paling sederhana.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kematangan sejati tidak
diukur dari tampilan luar, tetapi dari ketenangan dan kerendahan hati:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى
الْأَرْضِ هَوْنًا
“Adapun
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan
rendah hati.”(QS. Al-Furqan [25]: 63)
Ayat ini seolah menjadi
cermin bagi NU yang telah berjalan jauh. Semakin panjang usia pengabdian,
seharusnya semakin lembut langkahnya. Semakin besar jamaahnya, semakin rendah
hatinya.
Harlah satu abad NU bukan
sekadar perayaan capaian sejarah, melainkan undangan untuk melunakkan hati.
Bukan hanya bertanya apa yang telah NU capai,
tetapi lebih dalam dari itu: bagaimana NU dirasakan oleh umat yang selama ini menjaganya
dengan cara-cara yang sunyi dan setia.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ukuran kebaikan bukanlah kemegahan,
melainkan manfaat dan sentuhan kemanusiaan:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani;)
Jamaah awam NU mungkin
tidak menuliskan sejarah, tetapi mereka menghidupkannya. Mereka tidak berdiri
di podium, tetapi doa-doanya menguatkan perjalanan jam’iyyah ini. Mereka
menjaga NU bukan dengan slogan, melainkan dengan kesetiaan yang diam.
Hadratusyekh KH. Hasyim
Asy’ari pendiri NU pernah menegaskan bahwa tujuan ilmu, organisasi, dan
kepemimpinan bukanlah kemuliaan pribadi, tetapi khidmah kepada umat. Dalam Qānūn Asāsī, beliau menempatkan NU sebagai alat untuk
menjaga agama dan kemaslahatan masyarakat, bukan sebagai simbol kekuasaan.
Karena itu, pada usia satu
abad ini, NU seakan berbisik lembut kepada para pengurusnya: “Jika engkau ingin tetap hidup, jangan berdiri terlalu tinggi.
Duduklah bersama umatmu.”
Inilah makna kedewasaan
NU: tidak sibuk membanggakan usia, tetapi sibuk memastikan bahwa di setiap
kampung, di setiap langgar kecil, di setiap jamaah yang awam dan sederhana, NU
tetap terasa sebagai rumahrumah yang hangat, menenangkan, dan penuh kasih
sayang.
Jamaah Awam: Pondasi yang
Tidak Pernah Mengeluh
Jamaah awam NU adalah
pondasi yang jarang disebut, tetapi paling menentukan. Mereka tidak ramai
berbicara di forum. Nama mereka jarang tercatat dalam laporan. Namun dari
merekalah NU berdiri tegak dan bertahan lama. Kesetiaan mereka tidak berisik,
tetapi dalam dan mengakar.
Mereka hadir dalam
wajah-wajah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari:
·
Orang tua yang tidak
pernah absen tahlilan, meski tidak memahami istilah organisasi
·
Ibu-ibu yang istiqamah
bershalawat di sela mengurus rumah dan anak-anak
·
Petani dan buruh yang
menyisihkan rezeki kecil dengan penuh keikhlasan
·
Warga desa yang menjaga
tradisi agama tanpa banyak bertanya dan menuntut
Mereka tidak sibuk
bertanya apa itu NU, tetapi menjalani NU
dalam bentuk paling nyata. Dalam tahlil yang pelan, dalam shalawat yang lirih,
dalam doa yang dipanjatkan diam-diam. Bagi mereka, NU bukan papan nama, bukan
spanduk, bukan struktur. NU adalah rasa aman dalam beragama.
Al-Qur’an mengajarkan
bahwa kemuliaan amal tidak selalu tampak besar di mata manusia, tetapi bernilai
karena keikhlasan:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang
siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat
(balasannya).” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)
Jamaah awam NU mengamalkan
ayat ini dalam hidup mereka. Mereka mungkin tidak tahu siapa pengurus NU hari
ini, tetapi mereka tahu siapa kiai yang mereka hormati. Mereka mungkin tidak
paham struktur organisasi, tetapi mereka paham adab, tawadhu’, dan kepercayaan
kepada ulama. Di sanalah
NU hidup dalam bentuk yang paling jujur dan paling murni.
Namun justru karena
kesederhanaan itulah, sering kali tumbuh perasaan sunyi: NU sebagai organisasi
terasa bukan milik mereka. Mereka merasa cukup mengamalkan, tanpa merasa perlu
terlibat. Mereka tidak menuntut ruang, karena merasa tidak pantas meminta.
Mereka tidak mendekat, karena takut merepotkan.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa orang-orang yang tampak sederhana
justru sering paling dekat dengan Allah:
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ
لَأَبَرَّهُ
“Betapa
banyak orang yang berpenampilan sederhana dan terpinggirkan, tetapi jika ia
bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (HR. Muslim)
Maka jika jamaah awam
merasa tidak memiliki NU, itu bukan karena mereka kurang cinta. Justru karena
cinta mereka terlalu rendah hati untuk ditampakkan. Ini bukan kesalahan jamaah, melainkan tanda
bahwa ada jarak yang harus dijembatani dengan kasih sayang.
Hadratusyekh KH. Hasyim
Asy’ari sejak awal menegaskan bahwa jam’iyyah ini berdiri untuk menjaga umat
awam agar tetap selamat dalam beragama. NU bukan dibangun untuk mereka yang
merasa paling paham, tetapi untuk mereka yang ingin beragama dengan tenang.
Karena itu, ketika jamaah
awam merasa cukup mengamalkan tanpa merasa memiliki, NU tidak boleh menyalahkan
mereka. NU justru harus mendekat, menunduk, dan berkata dengan hati: “Engkaulah pondasi kami. Tanpamu, kami bukan apa-apa.”
Di sanalah tugas pengurus
dimulai: bukan mengangkat diri, tetapi mengangkat rasa memiliki di hati jamaah yang selama ini
setia tanpa suara.
Mengapa Rasa Memiliki Tidak Selalu Tumbuh Rasa memiliki tidak lahir dengan
sendirinya. Ia tidak bisa diperintah, apalagi dipaksa. Rasa memiliki tumbuh
dari pengalaman yang berulang pengalaman merasa diperhatikan, dilibatkan, dan
diakui sebagai bagian dari keluarga. Ketika pengalaman itu jarang terjadi, rasa
memiliki pun pelan-pelan melemah.
Banyak jamaah awam yang
setia mengamalkan tradisi NU, tetapi tidak merasa memiliki Nahdlatul Ulama sebagai organisasi. Hal ini
bukan karena kurang cinta, melainkan karena ada jarak yang terbentuk tanpa
disadari. Jarak ini setidaknya muncul dari beberapa hal berikut.
1. NU Terlihat Terlalu
Formal
Bagi jamaah awam, NU
sering tampak dalam bahasa yang terlalu tinggi, simbol yang terlalu resmi, dan
kegiatan yang terasa berat. Rapat, istilah organisasi, dan tata acara formal
kerap jauh dari dunia keseharian mereka yang sederhana.
Padahal, jamaah awam hidup
dalam bahasa rasa, bukan bahasa konsep. Mereka lebih memahami keteladanan
daripada istilah. Lebih mengerti sentuhan daripada penjelasan panjang. Ketika
NU tampil terlalu formal, jamaah tidak menolak tetapi memilih menjaga jarak
dengan sopan.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kemudahan adalah kunci dakwah:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
“Mudahkanlah
dan jangan mempersulit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
NU sejatinya lahir dari
semangat ini: mendekatkan agama, bukan menjauhkannya.
2. Pengurus Kurang Hadir
dalam Peristiwa Kecil
Bagi jamaah awam,
kehadiran lebih bermakna daripada pidato. Mereka mungkin lupa isi sambutan,
tetapi tidak pernah lupa siapa yang datang saat mereka berduka, sakit, atau
sedang kesulitan.
Jamaah lebih ingat tangan
yang menyalami, doa yang dibacakan, dan duduk diam yang menemani. Ketika
pengurus lebih sering hadir di acara besar daripada di peristiwa kecil
kehidupan jamaah, maka NU terasa hidup di panggung, tetapi sunyi di rumah-rumah
warga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ
مِنْهُمْ
“Barang
siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari
mereka.” (HR. al-Hakim)
Hadis ini menegaskan bahwa
kepedulian nyata adalah inti kebersamaan umat.
3. Keterlibatan Jamaah
Masih Terbatas
Banyak jamaah hadir dalam
kegiatan NU, tetapi hanya sebagai peserta, bahkan kadang hanya sebagai
pelengkap. Mereka jarang diajak merancang, jarang diminta pendapat, dan jarang
diberi peran meski kecil.
Padahal rasa memiliki
tumbuh ketika seseorang dilibatkan, bukan sekadar diundang. Ketika jamaah hanya
menjadi objek kegiatan, mereka akan merasa NU berjalan tanpa mereka.
Sebaliknya, ketika jamaah diajak bersama, NU akan terasa sebagai milik bersama.
Imam al-Ghazali
mengingatkan bahwa manusia akan mencintai sesuatu yang membuatnya merasa
dihargai dan diakui keberadaannya. Penghargaan inilah yang sering kali tidak
disengaja terlewatkan.
Meluruskan Arah: Bukan
Jamaah yang Salah
Penjelasan ini penting
agar NU tidak salah arah. Bukan
jamaah yang perlu “disadarkan”, tetapi cara kita mendekat yang perlu
diperhalus. Bukan umat yang kurang cinta, tetapi pendekatan
kita yang perlu lebih ramah.
Hadratusyekh KH. Hasyim
Asy’ari sejak awal meletakkan NU sebagai jam’iyyah yang berkhidmah kepada umat,
terutama umat awam. NU berdiri bukan untuk membebani mereka dengan urusan
organisasi, tetapi untuk membuat mereka merasa aman, tenang, dan terlindungi
dalam beragama.
Maka ketika jamaah awam
tidak merasa memiliki NU, itu bukan tanda kegagalan mereka. Itu adalah undangan
halus bagi para pengurus untuk menurunkan nada, mendekatkan langkah, dan
membuka ruang yang lebih luas.
Karena rasa memiliki tidak
tumbuh dari seruan keras, melainkan dari kehadiran yang setia, dari bahasa yang
sederhana, dan dari sikap yang memanusiakan.
Pengurus NU: Amanah untuk
Menyambung Rasa
Pengurus NU sejatinya
bukan sekadar penggerak organisasi. Mereka adalah penyambung rasa, rasa
kebersamaan, rasa aman, dan rasa memiliki antara jam’iyyah
(organisasi) dan jamā’ah (umat). Mereka bukan
pemilik NU, melainkan penjaga kepercayaan yang dititipkan oleh para kiai dan
jamaah awam dengan penuh harap.
Sejak awal berdirinya Nahdlatul Ulama, Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari
menegaskan bahwa NU bukan didirikan untuk kebesaran nama, tetapi untuk menjaga agama dan kemaslahatan umat,
terutama umat awam. Dalam Qānūn Asāsī,
beliau meletakkan ruh NU sebagai jam’iyyah khidmah,
bukan jam’iyyah kekuasaan.
Karena itu, menjadi
pengurus NU sejatinya adalah latihan batin yang terus-menerus. Setiap pengurus
seharusnya kerap bertanya pada dirinya sendiri, dengan jujur dan rendah hati: “Apakah kehadiran saya membuat umat merasa
lebih tenang, atau justru membuat mereka sungkan dan menjaga jarak?”
Pertanyaan ini penting, sebab sering kali jarak tidak diciptakan oleh niat
buruk, tetapi oleh sikap yang tanpa sadar meninggikan diri.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang
kelak akan dimintai pertanggungjawaban:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap
kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks NU, pengurus
adalah ra’in penggembala rasa umat. Ia
harus peka, sabar, dan hadir dengan hati. Pengurus NU yang baik bukanlah yang
paling sibuk rapat atau paling sering tampil di mimbar, melainkan yang:
·
Mau
turun ke bawah tanpa rasa gengsi, duduk bersama jamaah
tanpa jarak
·
Mau
mendengar keluhan tanpa merasa diserang, memahami bahwa keluh
kesah adalah bentuk kepercayaan
·
Mau
hadir tanpa harus selalu diundang, terutama dalam peristiwa
kecil kehidupan umat
Sebab bagi jamaah awam,
kehadiran adalah bahasa yang paling mudah dipahami. Mereka mungkin lupa susunan
kepengurusan, tetapi mereka ingat siapa yang datang saat mereka berduka, siapa
yang menenangkan saat mereka bingung, dan siapa yang diam-diam mendoakan.
Imam al-Ghazali
mengingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang mampu merasakan beban umat
sebelum umat itu bersuara. Kepemimpinan yang tidak disertai empati akan
melahirkan jarak, sementara kepemimpinan yang disertai kasih sayang akan
melahirkan kelekatan.
Ketika pengurus NU mampu
bersikap demikian rendah hati,hadir, dan mendengarkan maka NU akan terasa dekat
tanpa harus banyak bicara. Jamaah tidak perlu diyakinkan dengan slogan, karena
mereka sudah merasakannya dengan hati.
Di sanalah NU hidup bukan
sebagai struktur yang kaku, tetapi sebagai rumah yang pintunya selalu terbuka, dan
sebagai pelukan yang menenangkan bagi umat yang sederhana.
Dari Program ke
Pendampingan Nyata
Program kerja itu penting.
Ia menunjukkan arah, rencana, dan ikhtiar organisasi. Namun bagi jamaah awam,
yang paling terasa bukanlah padatnya agenda, melainkan hadir atau tidaknya NU di saat-saat kecil
kehidupan mereka.
Bagi jamaah sederhana, NU
hadir secara nyata bukan ketika kalender penuh kegiatan, tetapi ketika:
·
Ada
warga sakit, lalu pengurus datang, duduk sebentar, dan mendoakan
dengan tulus
·
Ada
keluarga miskin, lalu NU membantu dengan cara yang menjaga
martabat, tanpa membuka aib
·
Ada
konflik kecil di masyarakat, lalu NU hadir menenangkan, bukan menyulut api
Hal-hal seperti inilah
yang diam-diam membekas di hati jamaah. Mereka mungkin tidak membaca laporan
kegiatan, tetapi mereka mengingat siapa yang datang saat mereka lemah. Karena
yang disentuh bukan kertas dan angka, melainkan perasaan sebagai manusia.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa nilai kehadiran terletak pada empati dan
kepedulian nyata:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ
كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
“Perumpamaan
orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu
tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa
umat tidak disatukan oleh program, tetapi oleh rasa saling merasakan. Ketika satu
bagian sakit, bagian lain hadir bukan dengan pidato, tetapi dengan kepedulian.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, pendampingan seperti ini bukan hal baru. Sejak
awal, NU hidup dalam bentuk khidmah yang sunyi: menenangkan umat, menjaga
tradisi, dan menjadi penyangga sosial di tengah keterbatasan.
KH. Sahal Mahfudh pernah
menegaskan bahwa dakwah dan pengabdian harus berangkat dari kebutuhan nyata
masyarakat (maslahah al-waqi‘iyyah), bukan
sekadar idealisme program. Artinya, pengurus NU perlu peka membaca keadaan
sebelum menyusun kegiatan.
Imam al-Ghazali pun
mengingatkan bahwa kebaikan yang paling dalam pengaruhnya adalah kebaikan yang
dilakukan dengan empati, bukan dengan rasa lebih tinggi. Bantuan yang disertai
kasih sayang akan menumbuhkan kelekatan; bantuan yang disertai jarak justru
melahirkan rasa sungkan. Karena itu, pendampingan adalah ruh dari program.
Program tanpa pendampingan akan terasa dingin. Sebaliknya, pendampingan meski
tanpa nama besar akan terasa hidup.
Ketika NU hadir dengan
cara seperti ini pelan, sabar, dan setia jamaah awam akan merasakan bahwa NU
bukan sekadar organisasi yang bekerja, tetapi keluarga yang menemani. Di sanalah NU
benar-benar hidup: bukan di laporan yang rapi, tetapi di hati umat yang merasa
ditemani; bukan di panggung yang terang, tetapi di sudut-sudut kehidupan yang
sunyi.
Keawaman: Amanah yang
Harus Dijaga dengan Sabar
Dalam manhaj Ahlussunnah
wal Jama’ah, umat awam bukanlah masalah yang harus disingkirkan, melainkan amanah besar yang harus dijaga dengan penuh
kesabaran. Mereka adalah mayoritas umat. Di tangan
merekalah agama dijalani dalam kehidupan nyata di rumah, di ladang, di pasar,
dan di tengah keterbatasan hidup.
Imam al-Ghazali
mengingatkan bahwa tujuan utama agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi
memperbaiki hati manusia.
Agama diturunkan untuk menenangkan, bukan menakutkan; untuk membimbing, bukan
menghardik. Karena itu, cara mendekati umat sangat menentukan arah perjalanan
iman mereka. Jika pendekatan terlalu keras, hati akan tertutup. Jika pendekatan
terlalu jauh, hati akan merasa ditinggalkan.
Al-Qur’an sendiri
menegaskan bahwa kelembutan adalah jalan utama dalam membimbing manusia:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ
كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka
disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh
dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Ayat ini bukan hanya
petunjuk bagi Nabi, tetapi juga pelajaran bagi siapa pun yang memikul amanah
dakwah dan kepemimpinan umat. Jalan kelembutan bukan pilihan kedua; ia adalah
jalan utama.
Rasulullah ﷺ mencontohkan dakwah dengan kesabaran yang panjang. Beliau
menghadapi umat dengan berbagai latar belakang ada yang awam, ada yang keliru,
ada yang keras namun beliau tidak memulai dengan penghakiman. Beliau memulai
dengan empati.
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ،
وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya
kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidak
dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.”
(HR. Muslim)
Inilah jalan yang diwarisi
oleh Nahdlatul Ulama. Sejak awal, NU hadir
bukan untuk mengubah umat secara kasar, tetapi untuk menjaga umat agar tetap selamat dalam beragama.
NU memahami bahwa umat awam tidak butuh tekanan, melainkan tuntunan; tidak
butuh ancaman, melainkan pendampingan.
Karena itu, tugas pengurus
NU bukanlah memperlihatkan siapa yang paling paham, tetapi memastikan umat yang
paling awam tetap merasa aman. Pengurus NU harus mampu menjelaskan agama dan
organisasi dengan bahasa yang menenangkan bahasa yang membumi, yang mudah
dipahami, dan yang tidak membuat umat merasa kecil.
Hadratusyekh KH. Hasyim
Asy’ari meletakkan prinsip ini dengan sangat jelas: ilmu dan kepemimpinan harus
melahirkan adab. Jika adab hilang, ilmu akan menjadi beban. Jika kelembutan
hilang, agama akan terasa jauh.
Maka menjaga keawaman umat
sejatinya adalah menjaga masa depan NU itu sendiri. Selama umat awam merasa
dilindungi, dihormati, dan ditemani, NU akan tetap hidup. Bukan hanya sebagai
organisasi, tetapi sebagai jalan
pulang yang menenangkan bagi umat yang sederhana. Keawaman
bukan kekurangan. Ia adalah ladang kesabaran. Dan kesabaran itulah yang selama
satu abad telah menjaga NU tetap tegak dan dicintai.
Bagaimana Menumbuhkan Rasa
Memiliki Secara Perlahan
Rasa memiliki tidak bisa
diperintah. Ia tidak tumbuh karena instruksi, apalagi tekanan. Rasa memiliki
lahir dari pengalaman yang berulang,
dari perjumpaan-perjumpaan kecil yang jujur, dari sikap yang konsisten
memanusiakan.
Dalam kehidupan jamaah
awam, rasa memiliki kepada Nahdlatul Ulama
tumbuh bukan karena mereka diminta mencintai NU, tetapi karena mereka merasakan diri mereka dicintai oleh NU.
Karena itu, menumbuhkan
rasa memiliki harus dimulai dari hal-hal yang sederhana, namun bermakna:
·
Jamaah
diajak bicara, bukan hanya diminta hadir. Ketika jamaah didengar pendapatnya meski
sederhana mereka merasa diakui keberadaannya. Didengar berarti dihargai, dan
dihargai adalah pintu pertama menuju rasa memiliki.
·
Jamaah
diberi ruang berperan, meski kecil
Peran
kecil sering kali lebih bermakna daripada posisi besar. Ketika jamaah diberi
kepercayaan, mereka merasa NU adalah tempat mereka berbuat, bukan sekadar
tempat mereka datang.
·
Jamaah
dihargai meski tidak paham istilah organisasi. Jamaah awam tidak hidup dalam bahasa AD/ART, tetapi dalam
bahasa adab dan keteladanan. Ketika ketidaktahuan mereka tidak ditertawakan
atau diremehkan, hati mereka akan terbuka dengan sendirinya.
Al-Qur’an mengajarkan
bahwa kemuliaan manusia terletak pada penghormatan, bukan pada kecakapan
bicara:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh,
Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70)
Ayat ini menjadi dasar
bahwa setiap manusia termasuk jamaah awam harus diperlakukan dengan hormat,
tanpa syarat kepandaian atau posisi.
Rasulullah ﷺ juga mencontohkan cara membangun kebersamaan dengan sangat
halus. Beliau tidak pernah memaksa umat untuk merasa dekat, tetapi menghadirkan
diri dengan akhlak yang membuat umat ingin mendekat:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barang
siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Ketika pengurus NU
merendahkan diri, mau mendengar, mau mengajak, mau menghargai maka jamaah akan
terangkat martabatnya. Dari situlah rasa memiliki tumbuh, bukan karena diminta,
tetapi karena merasa
aman dan dihormati.
Imam al-Ghazali
mengingatkan bahwa hati manusia hanya akan terikat pada sesuatu yang membuatnya
merasa tenang. Organisasi yang membuat umat merasa kecil akan ditinggalkan
secara halus. Sebaliknya, organisasi yang membuat umat merasa diterima akan
dicintai tanpa diminta.
Maka, ketika jamaah awam
merasa dihormati sebagai manusia, mereka akan dengan sendirinya merasa memiliki
NU. Bukan karena ada seruan, bukan karena ada kewajiban, tetapi karena ada
kasih sayang yang nyata.
Rasa memiliki itu tumbuh
pelan, seperti doa yang diulang setiap malam, tidak keras, tidak tergesa, tetapi dalam dan menetap. Dan
di situlah NU menemukan kekuatannya yang paling sejati: bukan pada banyaknya
struktur, tetapi pada hati jamaah
yang merasa, “Inilah rumah kita
bersama.” NU sebagai Rumah Sosial dan Spiritual NU seharusnya selalu
dijelaskan dan dihadirkan sebagai rumah. Bukan sebagai menara yang tinggi, bukan
sebagai panggung yang berjarak, melainkan rumah yang pintunya terbuka.
Rumah tidak memilih siapa
yang paling pintar. Rumah tidak menanyakan
jabatan atau gelar. Rumah menerima siapa pun
yang pulang. Di rumah, orang boleh lelah tanpa harus menjelaskan. Di rumah, orang boleh kurang paham tanpa
merasa direndahkan. Di rumah, orang boleh belajar perlahan, tanpa ditertawakan
atau dikejar-kejar.
Begitulah seharusnya NU
hadir di tengah umat sebagai rumah sosial dan spiritual. Rumah sosial, tempat
umat merasa dilindungi martabatnya. Rumah spiritual, tempat iman dirawat dengan tenang dan
penuh kasih.
Abdurrahman Wahid berulang kali menegaskan
bahwa kekuatan NU bukan terletak pada kekakuan struktur, melainkan pada
kemampuannya merawat kemanusiaan.
NU hidup karena ia memahami manusia apa adanya dengan segala keterbatasan,
keraguan, dan harapannya.
Gus Dur pernah
mengingatkan bahwa agama kehilangan maknanya ketika ia menjauh dari manusia.
Maka NU tidak boleh hadir sebagai organisasi yang menakutkan, apalagi menghakimi.
NU harus hadir sebagai tempat orang merasa aman untuk tetap menjadi manusia,
sambil perlahan belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Al-Qur’an sendiri
menegaskan bahwa misi agama adalah membawa ketenangan dan kasih sayang:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan
Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh
alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)
Ayat ini menjadi fondasi
bahwa kehadiran NU sebagai jam’iyyah keagamaan harus terasa sebagai rahmat, bukan
beban. Jamaah awam tidak butuh tekanan untuk menjadi baik. Mereka butuh ruang
yang aman untuk bertumbuh.
Selama NU menjaga wajah
yang ramah dan hati yang lapang, jamaah awam akan selalu merasa betah berada di
dalamnya. Selama NU tidak menutup pintu bagi yang lemah dan sederhana, umat
akan tetap pulang meski pelan, meski tanpa suara. Karena rumah yang baik tidak
memanggil dengan keras,
tetapi selalu ada ketika dibutuhkan. Dan NU, pada hakikatnya, lahir untuk
menjadi rumah seperti itu.
Menatap Abad Kedua dengan
Kesadaran Baru
Abad kedua Nahdlatul Ulama akan penuh tantangan. Perubahan
zaman bergerak cepat. Cara hidup umat berubah. Cara orang belajar agama pun
tidak lagi sama. Di tengah arus besar itu, NU akan berhadapan dengan banyak
godaan: godaan untuk menjadi kaku, godaan untuk menjadi elitis, atau godaan
untuk merasa cukup dengan kebesaran masa lalu.
Namun di antara semua
perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh berubah: NU harus tetap berpihak kepada umat awam.
Karena sejak awal, NU lahir bukan untuk mereka yang sudah merasa paling paham,
tetapi untuk mereka yang ingin beragama dengan tenang. NU hadir bukan untuk
memamerkan keunggulan, tetapi untuk menjaga agar umat tidak merasa sendirian
dalam menjalani iman.
Al-Qur’an mengingatkan
bahwa arah kepemimpinan yang benar adalah keberpihakan kepada yang lemah dan
sederhana:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ
“Rendahkanlah
sayapmu bagi orang-orang beriman yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu‘ara’ [26]:
215)
Ayat ini bukan sekadar perintah
moral, tetapi pedoman sikap. Semakin tinggi amanah, semakin rendah seharusnya
sikap. Semakin besar organisasi, semakin lembut seharusnya kehadirannya.
Jika pada abad kedua nanti pengurus NU semakin rendah hati,
tidak merasa paling benar, tidak berjarak dengan umat; jika jamaah semakin dirangkul,
didengar suaranya, dihormati kesederhanaannya; dan jika NU semakin hadir dalam kehidupan nyata,
hadir di rumah duka, hadir di lorong kemiskinan, hadir di kegelisahan umat; maka
NU tidak hanya akan bertahan. NU akan terus dicintai.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa cinta umat bukan lahir dari kekuasaan,
tetapi dari akhlak:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Inilah pesan penting bagi
NU di abad kedua bahwa masa depan NU tidak
ditentukan oleh seberapa keras ia bersuara, tetapi oleh seberapa lembut ia
memeluk umatnya. NU akan tetap hidup selama ia tidak lupa asal usulnya, selama
ia tidak meninggalkan jamaah awam, dan selama ia memilih jalan khidmah daripada jalan
kebanggaan.
Menatap abad kedua bukan
berarti melangkah dengan dada membusung, tetapi dengan hati yang waspada dan
penuh kasih. Karena NU yang dicintai bukan NU yang merasa besar, melainkan NU
yang membuat umat merasa tidak
kecil.
Penutup:
Penjelasan yang Menjadi
Doa
Penjelasan tentang NU yang
lembut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang diucapkan melalui sikap dan perbuatan.
Ia tidak berhenti di mimbar, tetapi turun ke tanah.
Ia tidak tinggal di dokumen, tetapi hidup dalam perjumpaan.
Ketika pengurus mau
melangkah turun dan mendekat, jamaah tidak perlu dipanggil keras-keras mereka
akan merapat dengan sendirinya. Karena hati yang disentuh dengan tulus akan
menemukan jalannya sendiri untuk kembali. Nahdlatul
Ulama tidak dibesarkan oleh suara yang lantang, tetapi oleh kesetiaan
yang diam. Tidak dijaga oleh ambisi, tetapi oleh kasih sayang yang sabar.
Sebagaimana doa Nabi
Ibrahim yang memohon agar hati manusia dilembutkan dan didekatkan:
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ
“Maka
jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim [14]: 37)
Ayat ini seakan menjadi
harapan bagi NU: bukan agar dipuja, tetapi agar dicintai; bukan agar ditakuti, tetapi
agar dirindukan. Semoga Harlah satu abad NU benar-benar menjadi titik balik: NU semakin membumi
dalam kehidupan umat, pengurus semakin ringan melayani tanpa merasa lebih
tinggi, dan jamaah awam semakin merasa aman dan diakui keberadaannya.
Hingga suatu hari, di
langgar kecil dan di desa-desa sunyi, di hati orang-orang sederhana yang setia,
terucap kalimat yang paling jujur dan paling bermakna: “Inilah rumah kita bersama.” Dan
selama NU mampu menjadi rumah tempat
pulang bagi yang lelah, tempat belajar bagi yang awam, dan tempat bernaung bagi
yang kecil selama itu pula NU akan tetap
hidup, dijaga oleh doa, dirawat oleh cinta, dan dilanjutkan oleh generasi yang
rendah hati.
Amin.
Daftar Rujukan :
Abdurrahman Wahid. (1999).
Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan.
Jakarta: Desantara.
Abdurrahman Wahid. (2006).
Islamku, Islam Anda, Islam Kita.
Jakarta: The Wahid Institute.
Ahmad ibn Ḥanbal. (2001). Musnad
Aḥmad. Beirut: Mu’assasah
al-Risālah.
Al-Bukhari, Muḥammad ibn Ismā‘īl. (2001). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq al-Najāh.
Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. (2005). Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Fikr.
Al-Qur’an al-Karim.
(2019). Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia.
Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Ath-Thabrānī, Sulaymān ibn
Aḥmad. (1983). Al-Mu‘jam al-Kabīr. Kairo: Maktabah
Barton, Greg. (2002). Gus Dur: The Authorized Biography. Jakarta: Equinox
Publishing.
Bruinessen, Martin van.
(1994). NU: Tradisi, Relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana
Baru. Yogyakarta: LKiS.
Dhofier, Zamakhsyari.
(2011). Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai
dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Hasyim Asy’ari, KH.
(2011). Qānūn Asāsī Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Jombang: Pustaka Tebuireng.
Mahfudh, Sahal, KH. (1994).
Nuansa Fiqh Sosial. Yogyakarta:
LKiS.
Muslim ibn al-Ḥajjāj. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī.
Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama. (1984). Khittah Nahdlatul Ulama 1926.
Jakarta: PBNU.
Siddiq, Ahmad, KH. (1989).
Khittah Nahdliyah dan Tanggung Jawab Keumatan.
Jakarta: PBNU.

Komentar
Posting Komentar